negeri subur kubur

dalam setiap detik yang coba diukir tak ada hal yang begiti berharga manakala mengingat mereka yang telah lebih dahulu mengukirkan sejaranhnya demi negerinya, ketika hari ini kita hanya berbicara onani pemikiran, maka mereka lebih pandai bersua dari kita, jika kita pandai berdiskusi, maka mereka adalah para diplomator yang ulung dengan teknik komunikasi yang luarbiasa. maka dengan tiada hal yang kita banggakan hari ini, kita hanya punya modal yang lebih besar dibanding mereka dan memiliki setumpuk kebodohan yang siap mengganyang diri kita di negeri ini.

kawan rasanya malu dengan nasionalisme yang dulu bung karno nyalakan di api kemerdekaan kita, sekarang tak lagi terdengung nuasa nasionalisme itu, jika dulu bangsa ini dan negara ini di bangun dengan asas nasionalisme yang amat tinggi maka hari ini indonesia dibubarkan atas nama golongan dan perseorangan.

lihatkah kawan mereka yang menduduki kekuasaan hari ini mereka tak ubahnya para kerbau yang mengikuti apa kata majikannya, yang sesekali masih bisa makan rumput dari pinggir jalanan manakala tali ikatan tuannya tak menguat, lihatlah mereka para pendidik kita, mereka tak uabahnya anak kecil, yang ketika dikasih uang jajan akan menuruti keinginan papanya.

sungguh aku bersedih dengan negeri terkaya di bumi ini. dengan jutaan milyaran sumber daya alam yang dimililnya tak mampu berbuat banyak bagi rakyatnya.

This entry was posted in informasi, politik, Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s