Ibn Khaldun, Sosiologi yang terlupakan

Apresiasi sarjana muslim atas konsep Ibn Khaldun baru merebak  pasca ide ibn khaldunpembaharuan mulai berkumandang. Kita mengenal Abdullah Laroui yang membandingkan Ibn Khaldun dengan Niccolo Machiavelli, Ali Abdul Wahid Wafi yang membandingkannya dengan Auguste Comte, Abdul Aziz Izzat yang mengkomparasikannya dengan Emile Durkheim, dan Fuad Bali yang mempersandingkannya dengan Karl Marx.

Upaya beberapa sarjana muslim melakukan komparasi gagasan Ibn Khaldun dengan gagasan para pengkaji sosiologi di era modern pada dasarnya sebuah langkah untuk membuktikan kepada publik bahwa Ibn Khaldun merupakan pendiri ilmu sosiologi. Sekalipun demikian, fakta itu tak bisa mengabaikan bahwa para sarjana Barat lah terhitung semenjak era Rennaisance yang mendominasi kajian sosiologi. Fakta tersebut juga tak bisa mengaburkan, betapa beberapa kalangan intelektual, baik dari pihak Barat ataupun Islam sendiri yang meragukan otentisitas gagasan Ibn Khaldun. Dari kalangan Islam ada Mahmud Ismail yang gigih meruntuhkan klaim originalitas pemikiran Ibn Khaldun, sedang di Barat ada H.A.R Gibb yang meragukan keaslian metode Ibn Khaldun yang dianggapnya hanya mengadopsi dari sarjana sebelumnya.

Meski tak sedikit yang bersuara nyinyir atas penyematan konsep sosiologi pada Ibn Khaldun, nyatanya, banyak kalangan yang bersikukuh bahwa Ibn Khaldun adalah peletak dasar konsep-konsep sosiologi kontemporer yang lantas didaku sebagai karya original para sarjana Barat. Sebagai misal, dalam bukunya berjudul “Ibn Khaldoun; Naissance de L’Histoire passe du Tiers Monde”, Yves Lacoste berkeyakinan jika sesungguhnya Ibn Khaldun adalah penggagas bagi metode materialisme-historisisme. Satu metode yang selalu dikaitkan dengan metode dialektika materialisme aliran Marxisme.

Bagi penulis, klaim Lacoste bukanlah sebuah klaim gegabah. Sebab pada kenyataannya, Ibn Khaldun dalam Mukaddimahnya secara tegas menyatakan, “sesungguhnya, perbedaan antar generasi dalam beberapa sifatnya, berkelindan dengan perbedaannya dalam mata pencaharian.” Pernyataan lebih tegas datang dari Syed Farid Alatas yang berkeyakinan jika konsep-konsep Ibn Khaldun tidak semuanya bersifat partikularistik dan temporal. Adalah sebuah keniscayaan bagi kajian sosiologi modern untuk menerima konsep-konsep sosiologi yang teleh dikembangkan oleh Ibn Khaldun sebelumnya.

Sikap yang menganggap bahwa Ibn Khaldun merupakan pioner kajian sosiologi juga keluar dari Mahmoud Dhaouadi. Menurutnya, ada beberapa kesamaan yang nampak dalam konsep sosiologi Ibn Khaldun (Timur) dengan konsep sosiologi sarjana Barat Modern dan Kontemporer. Salah satu hal yang dipakai olehnya sebagai dalil adalah komparasi dalam tipologi masyarakat. Hampir mayoritas sosiolog Barat mengikuti Ibn Khaldun yang membagi masyarakat pasca primitif dalam dua bentuk. Ibn Khaldun menamakannya dengan tipe badawi dan hadhari, Durkheim dengan kategori mechanical dan organic solidarity society, Becker dengan sacred dan secular society, Lerner dengan traditional dan modern society, dan Parsons dengan pattern variables; particularism dan universalism oriented society. Praktis hanya berbeda dalam istilah atau nomenklatur.

Betapapun, kiprah intelektual Ibn Khaldun tak bisa dinafikan begitu saja. Sebagai sosok yang terlahir ketika dunia Arab Islam tengah kehilangan simbol politik kekuasaan, tak menjadikan Ibn Khaldun terjebak dalam budaya defeatisme yang menjadi alternatif paling realistis bagi masyarakat Arab Islam. Dengan konsep sosiologi serta filsafat sejarahnya, Ibn Khaldun melalui ide briliannya itu mendapat pelbagai apresiasi dari sejumlah kalangan.

Selain sebagai pioner kajian sosiologi, Ibn Khaldun juga disebut sebagai penggagas bidang filsafat sejarah. Beberapa akademisi malah beranggapan, karya Ibn Khaldun berjudul Mukaddimah itu justru serupa bibit bagi kajian antropologi modern yang matang di tangan Barat. Tak salah, bila kita menganggapnya sebagai bukti bahwa dunia Islam tak terlalu meratapi keruntuhan Baghdad yang selalu disalahpahami sebagai penyahih bagi kelesuan dunia intelektual Islam

This entry was posted in informasi, politik, Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s