Konvensional VS Syariah

Beberapa hari yang lalu, dalam pertemuan dengan para alumni HMI, menyisakan beberapa hal yang begitu berharga, bukan karena jarangnya ketemu atau silaturahmi, bukan juga karena jamuannya, hee biasa lah kalo mahasiswa kelaperan katanya itu juga, bukan juga karena banyaknya yang hadir, namun hal paling berharga itu adalah ada ilmu baru yang di dapat, yang tak mungkin di dapat dari bangku kuliah, apa itu?…

silaturahmi dengan alumni HMI memang banyak menghasilkan ilmu baru, itulah kenyataannya para kader HMI bukan pintar karena banyak baca buku, bukan juga pintar karena banyak praktek, tapi para kader HMI banyak belajar dari apa yang mereka temui. itulah yang membedakan HMI dengan yang lain,,katanya c gitu. tulisan kali ini saya mau share tentang apa yang saya dapat, semoga bisa bermanfaat tentunya. amiin

dalam pertemuan itu, membahas tentang dakwah ekonomi, yang menjadi narasumber adalah bang faruq, bang mastoer, bang ferry adnan, dan bang sanrego. point yang di dapat dari kajian itu adalah, sudahkah kita mengamalkan perekonomian secara islami, terlebih dalam sistem perbank kan di indonesia yang mayoritas muslim katanya. pertanyaan itu sangat menggelikan rasanya, karena itu pernah di bahas dalam diskusi pengurus cabang HMI MPO bogor, yang membahas tentang sistem syariah sesungguhnya seperti apa?, lalu kaitannya dengan kajian itu adalah. bahwa kita tidak bisa menapikan bahwa sistem bank syariah di negeri ini masih terikat dengan sistem perbank kan konvensiaoanl yang di adopsi dari barat. sehingga kadang kita menemukan syariah hanya bagian dari labeling agar orang muslim mau menabung di bank. begitulah hasilnya, lalu pertanyaannya salahkah dengan syariahnya, ya tentu saja tidak, syariah hanya bagian dari label memang betul, namun ketika da bank mengaku syariah tapi sistemnya konvensional nah itu baru perlu di tinjau ulang. mak cara terbaik adalah rampungkan ijab, atau kesepakatan saat membuat pernyataan kita akan menabung di bank, dan kita harus paham isinya. maka sepanjang itu ada dalam perjanjian, dan kesepakatan pihak bank dan konsumen maka tak ada yang salah dengan sistem.

This entry was posted in informasi, politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s