Islamkah kita?

Islam sebagai suatu idiologi, mungkin sudah seberapa juta kali kita dengar kata ini baik dari para ustadz, aktivis yang mengaku islam. dan mungkin sebagian besr mahasiswa yang mengaku muslim.

jn

salahkah dengan itu semua, kita sangat yakin tidak pernah ada yang salah dengan pernyataan itu. bahkan dengan pernyataan dirinya mengaku islampun kita tak bisa menyalahkan, karena mungkin secara fisik atau kasat mata mereka yang mengaku dirinya islam ya begitulah adanya islam versi mereka. namun dalam tulisan ini saya ingin coba mengkritisi dari sisi yang lainnya, dulu ataupun mungkin sekarang ada dari kita yang masih bertanya seperti ini. islamkah diri kita? dan masih banyak lagi pertanyaan seputar islam yang bersifat retorik tapi perlu pencerahan mendalam. baik gan, di tulisan ini bukan bermaksud membuat kalian galau atau bermaksud menyesatkan atau membuat pusing, tapi tulisan saya mengajak kita untuk berfikir secara jernih berfikir krititis terhadap diri sendiri. seperti yang kita tahu hari ini al-que’an sudah tidak laku, hadits tidak lagi laku, kenapa? kenapa saya bilang al-qur’an dan hadits tidak laku, karena semuanya itu diperdagangkan. al-qur’an dan hadits tidak lagi jadi panduan hidup tidak lagi jadi petunjuk, tapi hanya jadi barang dagangan.maka ketika tidak lagi ada harganya di pasaran maka buat apa lagi di beli. inilah yang dilakukan sebagian para da’i di indonesia.
sisi lain yang harus saya tanyakan adalah, kenapa kalian mengaku islam jika kelakuan kalian gk islami, kalau seperti apakah yang islami? yang islami tentuya kalian juga tahu semua yang diatur dalam al-qur’an danhadits itulah islami. sangat bodoh sekali jika masih bertanya seperti apa islami itu?. yang sangat bodoh lagi adalah manakala kita masih angkuh dengan pembelaan diri ketika melakuakn hal yang salah tapi mengaku benar. kelakuan korup mengaku sumbangan, mencuri dan merampok kalian sebutkan itu gonimah. memaki kalian bilang itu nasihat, mendusta kalian bilang itu kejujuran. lalu apa gunanya kalian mengaku islam. shalat kita tak ubahnya sebatas ritula keagamaan, zakat kita hanya jadi budaya memberi setahun sekali, lebaran dan puasa ramadhan hanya jadi kebiasaan. coba pikirkan ulang. masihkah kita pantas mengaku islam jika kelakuan kita seperti itu.. tak perlu saya jelaskan dasr hukum islamnya jika otak kita tak bisa menerima secara jernih apalagi hati kita. coba tanyakan pada hati kita semua. masih pantaskah mengaku? 

This entry was posted in informatics, Sajak and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s