Dia yang Hilang

Belum genap setahun rasanya, pertemuan terakhir dengan dia yang telah berjasa bagi negeri ini, bagi agama ini, belum genap setahun juga rasanya perpisahan itu tetaplah membawa luka yang teramat pedih. dimalam perjumpaan terakhir aku tak pernah berfikir sedikitpun akan kehilangan orang paling berharga di dunia ini. bagiku dialah pahlawan bangsa yang tak perlu dikenal 250 juta jiwa penduduk indonesia, yang tak perlu di berikan kalung penghargaan oleh seorang presiden terkorup sekalipun. bagiku dia tetap pahlawan bangsa ini. jika aku pilih siapakah tokoh paling mempengaruhi kehidupanku akan aku jadikan dialah orang no 1 yang akan aku sebut sebelum yang lainnya. bagiku tiada orang paling rendah ahti, tiada orang paling sabar, tiada orang paling bijak selain dia.

pertemuan terakhir itu menyisakan kesedihan sekaligus kenangan pahit dalam hidupku, ketika harapannya yang aku sendiri tak yakin bisa ku wujudkan, yang harapannya tidaklah sulit tapi memerlukan pemikiran yang matang. aku sungguh tak rela kehilangannya. setiap malam jum’at kebiasanku selalu membacakan surat untukmu melalui perantara-NYA berharap lantunan do’a yang kusampaikan akan berubah menjadi rahmat-NYA untuk dia.jika aku ingat wajahnya yang mulai kusut karena curahan kerja keras untukku, jika lesunya tubuhnya untuk menafkahiku, jika terjatuhnya dia karena berusaha membangkitkaku. aku sangat sedih.

Sungguhpun tuhan memilihkan apa yang aku inginkan hari ini, aku hanya ingin melihat wajahnya yang dulu lesu kini ceria melihat diriku yang bisa mewujudkan keinginan dan harapannya. oh tuhan sungguhpun aku meminta dia kembali itu adalah suatu kemustahilan bagiku. tapi bagimu tak ada yang tak mungkin. jika selama ini kenapa aku masih bertahan dengan situasi ini, jawabanku adalah aku ingin berusaha menjadi apa yang diharapkannya. dulu ketika aku pernah mengikat sebuah janji dengannya, bahwa aku akan berusaha mewudkan apa yang jadi harapannya. dengan usaha yang aku bisa. akupun tak sempat melihatnya ketika detik terakhir tuhan menjemputnya. maka hari ini curahatan hati ini bukanlah untuk mengungkapkan kesedihan akan kehilangan dia, tapi aku ingin berbagi betapa bahagia kalian yang memilikinya jangan pernah siakan dia. karena waktu tak bisa di putar ulang. semoga tuhan mengampuniku dan dia yang telah tiada.

 

This entry was posted in politik, Puisi, Sajak and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s